Surabaya – Seniman asal Surabaya Taufik Hidayat atau Taufik Monyong sempat membuat gaduh sosial media. Dalam video yang diunggah berdurasi 5 menit 29 detik itu, ia akan menghirup nafas pasien Covid-19. 

Hal itu, karena dirinya ingin membuktikan bahwa saat ini tidak ada Covid-19. Namun, setelah videonya viral Taufik Monyong langsung dilaporkan ke pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur karena dinilai menyebar ujaran kebencian. 

Saya menyampaikan bahwa marilah kita kembali ke Pancasila. Percayalah kepada Ketuhanan yang Maha Esa bahwa bisa menyelamatkan kita dari Corona Virus itu hanya Tuhan.

Saat melakukan klarifikasi di Polda Jatim, pada Kamis 11 Juni 2020, Taufik Monyong mengaku sengaja membuat video pada tanggal 6 Juni lalu.

Menurutnya, pembuatan video tersebut ia tujukan supaya masyarakat kembali pada nila-nilai pancasila.

“Saya menyampaikan bahwa marilah kita kembali ke Pancasila. Percayalah kepada Ketuhanan yang Maha Esa bahwa bisa menyelamatkan kita dari Corona Virus itu hanya Tuhan. Maksudnya diri kita yang paham betul dan percaya kepada Tuhan,” kata Taufik Monyong.

Selain itu, Taufik juga mengajak masyarakat mendukung pemerintah di era transisi new normal. Serta ia juga meminta maaf, terlebih banyak masyarakat yang tidak paham maksud dari video yang dibuatnya.

“Kalau begitu saya mohon maaf. Ini valuenya, nilainya. Marilah kita dukung pemerintah Indonesia untuk kembali ke new normal. Jangan ada masyarakat yang melakukan pembantahan atas apa yang diperintahkan presiden karena ini adalah titah negara,” kata dia.

Dikesempatan yang sama, Taufik Monyong juga menyampaikan alasan membuat video tersebut dan di upload di akun sosial media pribadinya. Ia juga menilai adanya Covid-19 ini semakin mengikis nilai persatuan bangsa. Salah satunya dengan penutupan sejumlah gang-gang di Surabaya.

“Sehingga tidak seperti sila ketiga terjadi perpecahan antara masyarakat, sehingga persatuan masyarakat Indonesia tidak ada. Saya gambarkan gang kampung ditutup, akses untuk kami menuju sana ditutup. Nah, itu alasan saya membuat video tersebut,” ujar dia.

Monyong sapaan akranya juga mengaku kasihan dengan ojek online, driver angkutan umum yang terkena dampak dari adanya PSBB. Sehingga penghasilan mereka menurun drastis.

“Sehingga sopir ojol waktu itu untuk masuk ke gang Kaliasin harus membayar stiker Rp3.000. Bayangkan kalau harus 20 gang berarti sopir ojol itu harus menghabiskan Rp 60.000. Nah mana makna persatuan bangsa kita,” tambah dia.

Tak hanya itu, Monyong menyebut ada tetangganya yang harus menjalani isolasi diri meskipun belum pasti terkena Covid-19. Hal ini membuat satu kampung turut terisolasi

“Akhirnya di situlah muncul fitnah-fitnah. Orang yang belum pasti, dipastikan karena Corona membuat orang terisolasi Kampung dan warganya,” ungkap Monyong.

Monyong pun tak menginginkan hal ini terus terjadi di Surabaya. Kini, Monyong mengaku tujuannya membuat video ini telah tercapai. Yakni tidak diperpanjangnya masa PSBB dan berganti ke era new normal.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan akan terus memproses kasus Taufik Monyong tersebut. Ia juga telah mengumpulkan saksi dan saksi ahli untuk dapat menangani kasus ini sesuai dengan prosedur undang-undang.

“Artinya proses ini tetap berlanjut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh amanah undang-undang suatu perbuatan bisa dilakukan proses penyidikan sampai dengan nanti melalui mekanisme Criminal Justice system ini adalah dalam rangka memberikan suatu kepastian hukum,” kata Truno.

Sedangkan terkait massa transisi New Normal, Truno mengaku semua sedang dalam pembahasan. Setelah masa PSBB berakhir pada 8 Juni lalu.

“Terkait new normal adalah suatu kehidupan tatanan baru, jadi konten yang menyatakan Corona atau Covid-19 sudah hilang di Jatim ini kan menjadi dualisme dan kontennya tidak benar. Sedangkan terkait bahasan atau kalimat dalam video apa ada konspirasi ini yang sedang didalami,” ucap Truno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here